Cara Membuat Anggaran Usaha dan Membandingkannya dengan Realisasi

Pemilik UMKM menyusun anggaran usaha dan membandingkannya dengan realisasi pendapatan serta biaya

Usaha tidak dapat dikelola hanya dengan melihat saldo rekening atau menunggu laporan akhir bulan.

Pemilik perlu mengetahui:

  • Berapa penjualan yang ditargetkan.
  • Berapa biaya yang boleh dikeluarkan.
  • Berapa laba yang ingin dicapai.
  • Kapan uang masuk dan keluar.
  • Berapa kas minimum yang harus tersedia.
  • Apakah realisasi berjalan sesuai rencana.
  • Penyimpangan mana yang memerlukan tindakan.

Anggaran usaha berfungsi sebagai rencana keuangan untuk periode tertentu. Namun, anggaran baru mempunyai nilai manajerial jika dibandingkan dengan hasil sebenarnya.

Tanpa perbandingan tersebut, pemilik hanya memiliki daftar target. Pemilik tidak mengetahui apakah target realistis, biaya terkendali, atau kondisi usaha bergerak ke arah yang salah.

Artikel ini menjelaskan cara menyusun anggaran usaha sederhana, membandingkannya dengan realisasi, mencari penyebab penyimpangan, dan menetapkan tindakan perbaikan.

Daftar Isi

  1. Apa yang dimaksud dengan anggaran usaha?
  2. Mengapa usaha kecil memerlukan anggaran?
  3. Perbedaan anggaran, target, proyeksi, dan realisasi.
  4. Data yang diperlukan.
  5. Cara membuat anggaran usaha.
  6. Cara membuat anggaran penjualan.
  7. Cara membuat anggaran biaya.
  8. Cara membuat anggaran laba.
  9. Cara membuat anggaran arus kas.
  10. Cara membandingkan anggaran dengan realisasi.
  11. Cara menganalisis selisih.
  12. Contoh anggaran usaha.
  13. Tindakan ketika realisasi menyimpang.
  14. Kesalahan yang sering terjadi.
  15. Checklist anggaran usaha.
  16. Pertanyaan yang sering diajukan.
  17. Kesimpulan.

Apa yang Dimaksud dengan Anggaran Usaha?

Anggaran usaha adalah rencana kuantitatif mengenai pendapatan, biaya, laba, arus kas, dan aktivitas keuangan untuk periode tertentu.

Anggaran dapat dibuat untuk:

  • Satu minggu.
  • Satu bulan.
  • Satu kuartal.
  • Satu tahun.
  • Sebuah proyek.
  • Sebuah cabang.
  • Sebuah produk.
  • Sebuah kampanye pemasaran.
  • Pembukaan lokasi baru.

Anggaran yang baik tidak hanya mencantumkan angka. Setiap angka harus memiliki dasar, asumsi, penanggung jawab, dan periode evaluasi.

Contoh:

Pemilik menetapkan target penjualan Rp80.000.000 per bulan.

Target tersebut belum cukup. Pemilik perlu mengetahui:

  • Berapa produk yang harus terjual.
  • Berapa harga jual rata-rata.
  • Berapa hari operasional.
  • Berapa transaksi harian yang dibutuhkan.
  • Berapa nilai rata-rata setiap transaksi.
  • Berapa kapasitas produksi.
  • Berapa persediaan yang diperlukan.
  • Berapa biaya untuk menghasilkan penjualan tersebut.
  • Kapan pembayaran dari pelanggan diterima.

Dengan demikian, anggaran bukan sekadar keinginan. Anggaran harus menggambarkan hubungan antara target dan sumber daya yang tersedia.

Mengapa Usaha Kecil Memerlukan Anggaran?

1. Menentukan arah penggunaan uang

Tanpa anggaran, pengeluaran sering diputuskan berdasarkan saldo rekening.

Saldo yang tinggi dapat mendorong pemilik untuk:

  • Membeli peralatan terlalu cepat.
  • Menambah stok secara berlebihan.
  • Menaikkan pengambilan pribadi.
  • Menambah tenaga kerja sebelum diperlukan.
  • Mengeluarkan biaya pemasaran tanpa ukuran hasil.
  • Membuka cabang sebelum usaha utama stabil.

Anggaran membantu membedakan pengeluaran yang telah direncanakan dengan pengeluaran spontan.

2. Menilai kemampuan usaha

Pemilik dapat menggunakan anggaran untuk menilai apakah usaha mampu:

  • Membayar biaya operasional.
  • Melunasi kewajiban.
  • Menambah karyawan.
  • Membeli aset.
  • Meningkatkan persediaan.
  • Menjalankan promosi.
  • Membayar kompensasi pemilik.
  • Menjaga cadangan kas.
  • Membiayai ekspansi.

3. Mengendalikan biaya

Anggaran menetapkan batas dan ekspektasi biaya.

Jika biaya aktual lebih tinggi, pemilik dapat segera mencari penyebabnya sebelum masalah menjadi lebih besar.

4. Mengetahui kebutuhan modal kerja

Usaha dapat menghasilkan laba tetapi tetap kekurangan kas jika:

  • Pelanggan membayar terlambat.
  • Stok terlalu besar.
  • Pemasok harus dibayar lebih awal.
  • Penjualan bersifat musiman.
  • Cicilan dan pajak jatuh tempo bersamaan.
  • Dana digunakan untuk membeli aset.

Anggaran arus kas membantu memperkirakan kapan kekurangan tersebut dapat terjadi.

5. Membuat keputusan berdasarkan data

Dengan membandingkan anggaran dan realisasi, pemilik dapat menilai:

  • Apakah harga jual sudah memadai.
  • Apakah target penjualan realistis.
  • Apakah biaya bahan meningkat.
  • Apakah promosi menghasilkan penjualan.
  • Apakah produktivitas tenaga kerja membaik.
  • Apakah cabang tertentu menghasilkan laba.
  • Apakah produk tertentu perlu dihentikan.
  • Apakah kebutuhan kas sesuai rencana.

Perbedaan Anggaran, Target, Proyeksi, dan Realisasi

Istilah tersebut berhubungan, tetapi tidak selalu mempunyai arti yang sama.

IstilahFungsi
TargetHasil yang ingin dicapai
AnggaranRencana pendapatan, biaya, laba, dan penggunaan sumber daya
ProyeksiPerkiraan hasil berdasarkan informasi terbaru
RealisasiHasil yang benar-benar terjadi
SelisihPerbedaan antara anggaran dan realisasi

Contoh:

  • Target penjualan: Rp100.000.000.
  • Anggaran biaya: Rp75.000.000.
  • Anggaran laba: Rp25.000.000.
  • Setelah dua minggu, proyeksi penjualan direvisi menjadi Rp90.000.000.
  • Realisasi akhir bulan: Rp88.000.000.
  • Realisasi biaya: Rp72.000.000.
  • Realisasi laba: Rp16.000.000.

Anggaran awal tidak perlu dihapus hanya karena proyeksi berubah. Keduanya mempunyai fungsi berbeda.

Anggaran menunjukkan rencana awal, sedangkan proyeksi terbaru menunjukkan hasil yang kemungkinan akan terjadi berdasarkan informasi terkini.

Data yang Diperlukan

Sebelum membuat anggaran, kumpulkan data yang relevan.

Data penjualan

  • Penjualan beberapa bulan sebelumnya.
  • Jumlah transaksi.
  • Jumlah unit terjual.
  • Harga jual rata-rata.
  • Penjualan per produk.
  • Penjualan per kanal.
  • Penjualan per cabang.
  • Pola hari ramai dan sepi.
  • Musim penjualan.
  • Retur dan pembatalan.
  • Diskon.
  • Piutang pelanggan.

Data biaya

  • Harga bahan baku.
  • Harga pokok barang.
  • Kemasan.
  • Tenaga kerja.
  • Sewa.
  • Listrik dan utilitas.
  • Pemasaran.
  • Pengiriman.
  • Komisi platform.
  • Perawatan.
  • Perangkat lunak.
  • Biaya administrasi.
  • Bunga pinjaman.
  • Pajak dan kewajiban terkait.
  • Biaya lain yang berulang.

Data kas dan kewajiban

  • Saldo kas.
  • Saldo bank.
  • Piutang.
  • Utang pemasok.
  • Cicilan.
  • Pajak yang harus dibayar.
  • Uang muka pelanggan.
  • Rencana pembelian aset.
  • Pengambilan atau pembayaran kepada pemilik.
  • Cadangan minimum.

Jika usaha baru belum mempunyai data historis, gunakan asumsi yang dapat dijelaskan. Hindari menyajikan asumsi sebagai kepastian.

Cara Membuat Anggaran Usaha

Langkah 1: Tentukan periode anggaran

Untuk usaha kecil, anggaran bulanan umumnya lebih mudah digunakan.

Anggaran tahunan tetap dapat dibuat, tetapi sebaiknya dipecah menjadi:

  • Anggaran bulanan.
  • Anggaran mingguan untuk kas.
  • Target harian untuk penjualan tertentu.

Periode yang terlalu panjang dapat menyembunyikan masalah jangka pendek.

Sebaliknya, anggaran yang terlalu rinci dapat menghabiskan waktu jika kemampuan pencatatan usaha belum memadai.

Langkah 2: Tentukan tujuan usaha

Contoh tujuan:

  • Mencapai laba Rp15.000.000 per bulan.
  • Menjaga kas minimum Rp25.000.000.
  • Menurunkan biaya bahan dari 42% menjadi 38% dari penjualan.
  • Meningkatkan nilai rata-rata transaksi.
  • Mengurangi stok lambat bergerak.
  • Membayar utang pemasok tepat waktu.
  • Mengumpulkan dana untuk membeli mesin.
  • Membuka cabang tanpa mengganggu kas usaha utama.

Tujuan harus diterjemahkan menjadi angka dan tindakan.

Langkah 3: Tentukan asumsi utama

Catat asumsi yang digunakan, misalnya:

  • Hari operasional: 26 hari.
  • Transaksi rata-rata: 80 transaksi per hari.
  • Nilai rata-rata transaksi: Rp40.000.
  • Harga bahan naik 3%.
  • Sewa tetap.
  • Komisi platform 20%.
  • Penjualan akhir pekan lebih tinggi.
  • Satu mesin baru mulai digunakan pertengahan bulan.
  • Pelanggan korporasi membayar dalam 30 hari.

Asumsi membantu pemilik memahami mengapa realisasi berbeda dari anggaran.

Langkah 4: Buat anggaran penjualan

Gunakan penggerak penjualan yang sesuai dengan model usaha.

Untuk usaha produk:

Penjualan = Jumlah unit terjual ร— Harga jual rata-rata

Untuk usaha jasa:

Pendapatan jasa = Jumlah pekerjaan ร— Tarif rata-rata

Untuk usaha berbasis transaksi:

Penjualan = Jumlah transaksi ร— Nilai rata-rata transaksi

Contoh:

  • Hari operasional: 25 hari.
  • Target transaksi: 60 transaksi per hari.
  • Nilai transaksi rata-rata: Rp50.000.

Anggaran penjualan = 25 ร— 60 ร— Rp50.000

Anggaran penjualan = Rp75.000.000

Jangan hanya menaikkan penjualan tahun sebelumnya dengan persentase tertentu tanpa memeriksa kapasitas dan kondisi pasar.

Langkah 5: Buat anggaran biaya variabel

Biaya variabel berubah mengikuti volume penjualan atau produksi.

Contohnya:

  • Bahan baku.
  • Barang dagangan.
  • Kemasan.
  • Komisi penjualan.
  • Biaya platform.
  • Biaya pembayaran.
  • Ongkos pengiriman tertentu.
  • Upah berdasarkan jumlah produksi.

Jika biaya variabel diperkirakan 40% dari penjualan:

Anggaran biaya variabel = 40% ร— Rp75.000.000

Anggaran biaya variabel = Rp30.000.000

Persentase tersebut harus didasarkan pada perhitungan HPP, data historis, kontrak pemasok, atau asumsi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Langkah 6: Buat anggaran biaya tetap

Biaya tetap tidak selalu berubah secara langsung ketika penjualan berubah dalam rentang tertentu.

Contohnya:

  • Sewa.
  • Gaji tetap.
  • Langganan perangkat lunak.
  • Internet.
  • Biaya administrasi rutin.
  • Penyusutan dalam laporan internal tertentu.
  • Biaya keamanan.
  • Retainer jasa profesional.

Contoh:

Biaya tetapAnggaran
SewaRp6.000.000
GajiRp12.000.000
Listrik dan internetRp2.500.000
Perangkat lunakRp500.000
AdministrasiRp1.000.000
TotalRp22.000.000

Sebagian biaya bersifat campuran. Listrik, misalnya, dapat memiliki bagian tetap dan bagian yang berubah mengikuti aktivitas.

Langkah 7: Masukkan biaya tidak rutin

Biaya tidak rutin sering terlupakan karena tidak terjadi setiap bulan.

Contohnya:

  • Perpanjangan izin.
  • Perawatan besar.
  • Bonus tahunan.
  • Pajak tertentu.
  • Penggantian peralatan.
  • Renovasi.
  • Premi asuransi.
  • Pelatihan.
  • Biaya audit atau jasa profesional.
  • Kampanye pemasaran musiman.

Jika biaya tahunan sebesar Rp12.000.000, usaha dapat mengalokasikan Rp1.000.000 per bulan dalam anggaran internal agar kebutuhan tersebut tidak mengejutkan kas.

Langkah 8: Hitung anggaran laba

Kerangka sederhananya:

Anggaran laba = Anggaran penjualan โˆ’ Anggaran seluruh biaya

Contoh:

  • Penjualan: Rp75.000.000.
  • Biaya variabel: Rp30.000.000.
  • Biaya tetap: Rp22.000.000.
  • Biaya tidak rutin yang dialokasikan: Rp3.000.000.

Anggaran laba = Rp75.000.000 โˆ’ Rp55.000.000

Anggaran laba = Rp20.000.000

Hitung juga margin laba:

Margin laba = Laba รท Penjualan ร— 100%

Margin laba = Rp20.000.000 รท Rp75.000.000 ร— 100%

Margin laba = 26,67%

Pastikan definisi laba yang digunakan konsisten. Laba kotor, laba operasional, dan laba bersih tidak boleh dibandingkan seolah-olah merupakan angka yang sama.

Langkah 9: Buat anggaran arus kas

Anggaran laba tidak menggantikan anggaran arus kas.

Susun:

  • Saldo kas awal.
  • Penerimaan kas.
  • Pembayaran biaya.
  • Pembayaran utang.
  • Cicilan pokok.
  • Pembelian aset.
  • Setoran modal.
  • Pinjaman.
  • Pengambilan atau pembayaran kepada pemilik.
  • Saldo kas akhir.

Rumus sederhananya:

Saldo kas akhir = Saldo kas awal + Penerimaan kas โˆ’ Pengeluaran kas

Contoh:

KomponenNilai
Saldo kas awalRp20.000.000
Penerimaan pelangganRp65.000.000
Pembayaran operasional(Rp50.000.000)
Pembayaran pokok pinjaman(Rp3.000.000)
Pembelian peralatan(Rp8.000.000)
Pengambilan pemilik(Rp5.000.000)
Saldo kas akhirRp19.000.000

Walaupun penjualan dianggarkan Rp75.000.000, penerimaan kas hanya Rp65.000.000 karena sebagian penjualan belum dibayar pelanggan.

Langkah 10: Tentukan kas minimum

Kas minimum berfungsi sebagai batas pengamanan.

Dasarnya dapat mempertimbangkan:

  • Satu atau beberapa bulan biaya tetap.
  • Siklus pembayaran pelanggan.
  • Kebutuhan stok.
  • Risiko keterlambatan pembayaran.
  • Musim penjualan.
  • Cicilan dan pajak.
  • Ketergantungan kepada pelanggan besar.
  • Kemudahan memperoleh pembiayaan darurat.

Jika saldo akhir diproyeksikan di bawah batas minimum, usaha perlu mengambil tindakan sebelum kekurangan kas benar-benar terjadi.

Langkah 11: Tentukan penanggung jawab anggaran

Setiap bagian anggaran sebaiknya mempunyai pihak yang bertanggung jawab.

Contoh:

KomponenPenanggung jawab
PenjualanPemilik atau kepala penjualan
Bahan bakuProduksi atau pengadaan
Tenaga kerjaOperasional
PemasaranPemasaran
Kas dan pembayaranKeuangan atau pemilik
Pembelian asetPemilik atau manajemen

Penanggung jawab tidak selalu berarti pihak tersebut bebas mengeluarkan uang. Batas persetujuan tetap diperlukan.

Cara Membandingkan Anggaran dengan Realisasi

Setelah periode berjalan, masukkan angka aktual menggunakan definisi yang sama dengan anggaran.

Gunakan tabel berikut:

KomponenAnggaranRealisasiSelisihSelisih %
PenjualanRp75.000.000Rp68.000.000(Rp7.000.000)(9,33%)
Biaya variabelRp30.000.000Rp29.500.000Rp500.0001,67%
Biaya tetapRp22.000.000Rp23.000.000(Rp1.000.000)(4,55%)
Biaya lainRp3.000.000Rp4.000.000(Rp1.000.000)(33,33%)
LabaRp20.000.000Rp11.500.000(Rp8.500.000)(42,50%)

Rumus selisih sederhana:

Selisih = Realisasi โˆ’ Anggaran

Namun, tanda positif tidak selalu berarti baik.

  • Penjualan lebih tinggi biasanya menguntungkan.
  • Biaya lebih tinggi biasanya tidak menguntungkan.
  • Kas lebih tinggi belum tentu baik jika disebabkan utang baru.
  • Biaya lebih rendah belum tentu baik jika perawatan penting ditunda.
  • Penjualan lebih tinggi belum tentu menghasilkan laba jika diskon dan biaya terlalu besar.

Karena itu, setiap selisih harus dinilai berdasarkan substansinya.

Cara Menganalisis Penyebab Selisih

Selisih penjualan

Periksa apakah perbedaan disebabkan oleh:

  • Jumlah transaksi.
  • Jumlah unit.
  • Harga jual.
  • Diskon.
  • Retur.
  • Pembatalan.
  • Hari operasional.
  • Ketersediaan stok.
  • Kapasitas produksi.
  • Kinerja tenaga penjualan.
  • Perubahan musim.
  • Persaingan.
  • Perubahan kanal penjualan.

Contoh:

Anggaran:

  • 1.500 transaksi.
  • Nilai rata-rata Rp50.000.
  • Penjualan Rp75.000.000.

Realisasi:

  • 1.360 transaksi.
  • Nilai rata-rata Rp50.000.
  • Penjualan Rp68.000.000.

Penyebab utamanya adalah kekurangan 140 transaksi, bukan penurunan harga rata-rata.

Selisih biaya bahan

Periksa:

  • Harga beli.
  • Jumlah pemakaian.
  • Pemborosan.
  • Produk rusak.
  • Perubahan komposisi penjualan.
  • Porsi produk.
  • Kesalahan produksi.
  • Pencurian atau kehilangan.
  • Diskon pemasok.
  • Biaya pengiriman.

Selisih tenaga kerja

Periksa:

  • Jam lembur.
  • Jumlah tenaga kerja.
  • Produktivitas.
  • Absensi.
  • Pergantian karyawan.
  • Tenaga sementara.
  • Volume produksi.
  • Perubahan upah.
  • Kesalahan penjadwalan.

Selisih pemasaran

Biaya pemasaran yang lebih tinggi tidak otomatis buruk jika menghasilkan pelanggan dan laba tambahan.

Ukur:

  • Jumlah prospek.
  • Transaksi dari kampanye.
  • Biaya mendapatkan pelanggan.
  • Nilai transaksi.
  • Margin kontribusi.
  • Pelanggan yang kembali.
  • Periode pengukuran.

Selisih arus kas

Jika kas lebih rendah daripada anggaran, periksa:

  • Piutang terlambat.
  • Penjualan lebih rendah.
  • Stok meningkat.
  • Pemasok dibayar lebih cepat.
  • Pembelian aset.
  • Cicilan.
  • Pajak.
  • Pengambilan pemilik.
  • Biaya tidak terencana.
  • Kesalahan pencatatan.
  • Transfer yang belum diklasifikasikan.

Contoh Lengkap Anggaran Usaha

Sebuah usaha makanan membuat anggaran bulanan berikut:

Anggaran

KomponenNilai
PenjualanRp100.000.000
Bahan dan kemasanRp42.000.000
Gaji dan upahRp18.000.000
SewaRp7.000.000
UtilitasRp3.000.000
PemasaranRp4.000.000
Komisi platformRp5.000.000
Biaya lainRp3.000.000
Total biayaRp82.000.000
Laba anggaranRp18.000.000

Realisasi

KomponenNilai
PenjualanRp92.000.000
Bahan dan kemasanRp41.500.000
Gaji dan upahRp20.000.000
SewaRp7.000.000
UtilitasRp3.500.000
PemasaranRp5.000.000
Komisi platformRp5.500.000
Biaya lainRp4.000.000
Total biayaRp86.500.000
Laba realisasiRp5.500.000

Penjualan hanya turun 8%, tetapi laba turun dari Rp18.000.000 menjadi Rp5.500.000.

Artinya, masalah tidak hanya berasal dari penjualan. Biaya juga meningkat.

Analisis awal:

  • Penjualan lebih rendah Rp8.000.000.
  • Biaya bahan hanya turun Rp500.000.
  • Gaji lebih tinggi Rp2.000.000.
  • Utilitas lebih tinggi Rp500.000.
  • Pemasaran lebih tinggi Rp1.000.000.
  • Komisi platform lebih tinggi Rp500.000.
  • Biaya lain lebih tinggi Rp1.000.000.

Pemilik perlu memeriksa mengapa bahan tidak turun sebanding dengan penjualan dan apakah peningkatan biaya pemasaran menghasilkan penjualan tambahan yang memadai.

Tindakan ketika Realisasi Menyimpang

Jika penjualan lebih rendah

Evaluasi:

  • Jumlah pelanggan.
  • Nilai transaksi.
  • Produk yang paling menurun.
  • Kanal penjualan.
  • Jam operasional.
  • Ketersediaan stok.
  • Harga.
  • Kualitas layanan.
  • Aktivitas promosi.
  • Perubahan pasar.

Jangan langsung memberikan diskon sebelum mengetahui penyebab penurunan.

Jika biaya bahan terlalu tinggi

Tindakan dapat mencakup:

  • Menghitung ulang HPP.
  • Memeriksa harga pemasok.
  • Menimbang pemakaian aktual.
  • Menetapkan standar porsi.
  • Mengurangi limbah.
  • Memperbaiki penyimpanan.
  • Meninjau desain produk.
  • Menyesuaikan harga jual.
  • Menghentikan produk yang tidak ekonomis.

Jika biaya tetap terlalu besar

Periksa apakah struktur usaha terlalu berat dibandingkan kapasitas penjualan.

Evaluasi:

  • Penggunaan ruang.
  • Jumlah tenaga kerja.
  • Langganan yang tidak digunakan.
  • Kendaraan dan peralatan.
  • Biaya administrasi.
  • Jam kerja dan jadwal.
  • Kontrak pemasok jasa.

Jika kas lebih rendah daripada rencana

Prioritaskan:

  • Penagihan piutang.
  • Pengendalian stok.
  • Penundaan belanja yang tidak mendesak.
  • Negosiasi jadwal pemasok.
  • Pembatasan pengambilan pemilik.
  • Peninjauan cicilan.
  • Penyusunan prioritas pembayaran.
  • Pembaruan proyeksi kas.

Jangan menambah pinjaman sebelum penyebab kekurangan kas diketahui.

Anggaran Tetap dan Anggaran Fleksibel

Anggaran tetap dibuat berdasarkan satu tingkat aktivitas.

Contoh:

  • Penjualan Rp100.000.000.
  • Biaya bahan Rp40.000.000.

Jika realisasi penjualan hanya Rp80.000.000, membandingkan biaya bahan aktual secara langsung dengan Rp40.000.000 dapat menimbulkan kesimpulan yang keliru.

Anggaran fleksibel menyesuaikan biaya variabel dengan volume aktual.

Jika biaya bahan standar 40% dari penjualan:

Anggaran fleksibel bahan = 40% ร— Rp80.000.000

Anggaran fleksibel bahan = Rp32.000.000

Jika biaya bahan aktual Rp36.000.000, terdapat selisih Rp4.000.000 yang perlu diperiksa.

Pendekatan ini membantu membedakan pengaruh turunnya volume dari ketidakefisienan biaya.

Seberapa Sering Anggaran Harus Ditinjau?

Frekuensi bergantung pada ukuran dan risiko usaha.

Harian

Periksa:

  • Penjualan.
  • Jumlah transaksi.
  • Kas.
  • Pembatalan.
  • Stok kritis.
  • Pengeluaran tidak biasa.

Mingguan

Periksa:

  • Penjualan terhadap target.
  • Biaya utama.
  • Piutang.
  • Utang jatuh tempo.
  • Stok.
  • Kas beberapa minggu ke depan.

Bulanan

Periksa:

  • Laba rugi.
  • Anggaran versus realisasi.
  • Arus kas.
  • Margin.
  • Pengambilan pemilik.
  • Pembelian aset.
  • Penyebab selisih.
  • Proyeksi terbaru.

Kuartalan

Tinjau:

  • Asumsi bisnis.
  • Harga.
  • Struktur biaya.
  • Produk dan kanal.
  • Rencana investasi.
  • Target tahunan.
  • Kebutuhan modal.

Kesalahan yang Sering Terjadi

1. Membuat target tanpa dasar

Target yang hanya mengikuti keinginan pemilik tidak dapat digunakan untuk mengelola usaha.

2. Menggunakan omzet sebagai satu-satunya ukuran

Omzet tinggi tidak menjamin laba dan kas sehat.

3. Mengabaikan biaya kecil

Biaya kecil yang sering terjadi dapat menjadi material ketika dijumlahkan.

4. Tidak memasukkan pengambilan pemilik

Pengambilan pemilik mungkin tidak menjadi biaya operasional, tetapi tetap mengurangi kas usaha.

5. Mencampur anggaran laba dengan arus kas

Laba dan perubahan kas tidak sama.

6. Mengubah anggaran lama agar sama dengan realisasi

Tindakan ini menghilangkan kemampuan untuk menilai kualitas perencanaan.

Buat proyeksi terbaru, tetapi pertahankan anggaran awal sebagai pembanding.

7. Menganggap semua selisih biaya buruk

Biaya dapat meningkat karena volume penjualan lebih tinggi atau investasi yang menghasilkan manfaat.

8. Menganggap biaya lebih rendah selalu baik

Biaya rendah dapat terjadi karena:

  • Perawatan ditunda.
  • Persediaan tidak dibeli.
  • Karyawan tidak dilatih.
  • Pemasaran dihentikan.
  • Tagihan belum dicatat.
  • Kualitas diturunkan.

9. Tidak memperbarui proyeksi

Ketika kondisi berubah signifikan, pemilik tetap memerlukan perkiraan terbaru.

10. Tidak menetapkan tindakan

Laporan selisih tanpa keputusan tidak memperbaiki usaha.

Setiap penyimpangan material perlu mempunyai:

  • Penyebab.
  • Penanggung jawab.
  • Tindakan.
  • Tenggat waktu.
  • Ukuran keberhasilan.
  • Tanggal evaluasi ulang.

Indikator Anggaran Sudah Digunakan dengan Baik

Sistem anggaran mulai berfungsi jika pemilik dapat menjawab:

  • Berapa target penjualan periode ini?
  • Apa dasar target tersebut?
  • Berapa batas biaya utama?
  • Berapa laba yang direncanakan?
  • Berapa kas minimum?
  • Berapa realisasi saat ini?
  • Di mana penyimpangan terbesar?
  • Mengapa penyimpangan terjadi?
  • Apakah penyimpangan hanya sementara?
  • Apa tindakan yang telah ditetapkan?
  • Siapa yang bertanggung jawab?
  • Bagaimana proyeksi sampai akhir periode?
  • Apakah usaha memerlukan tambahan kas?
  • Apakah keputusan investasi masih layak dijalankan?

Checklist Membuat Anggaran Usaha

  • Tentukan periode anggaran.
  • Tetapkan tujuan usaha.
  • Kumpulkan data historis.
  • Catat asumsi utama.
  • Hitung target penjualan.
  • Pisahkan penjualan per produk atau kanal jika diperlukan.
  • Hitung biaya variabel.
  • Hitung biaya tetap.
  • Masukkan biaya tidak rutin.
  • Masukkan kewajiban pajak yang relevan.
  • Masukkan cicilan dan pembayaran utang dalam anggaran kas.
  • Catat rencana pembelian aset.
  • Catat setoran modal atau pinjaman.
  • Catat rencana pembayaran kepada pemilik.
  • Hitung anggaran laba.
  • Buat anggaran arus kas.
  • Tentukan kas minimum.
  • Tetapkan batas pengeluaran.
  • Tentukan penanggung jawab.
  • Catat realisasi secara rutin.
  • Gunakan definisi akun yang konsisten.
  • Hitung selisih nominal.
  • Hitung selisih persentase.
  • Identifikasi penyimpangan material.
  • Periksa penyebab, bukan hanya hasil.
  • Bedakan pengaruh harga dan volume.
  • Gunakan anggaran fleksibel untuk biaya variabel jika diperlukan.
  • Buat proyeksi terbaru.
  • Tetapkan tindakan perbaikan.
  • Tentukan tenggat waktu.
  • Evaluasi hasil tindakan.
  • Perbarui asumsi untuk periode berikutnya.
  • Simpan anggaran awal sebagai pembanding.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah usaha kecil perlu membuat anggaran?

Ya. Anggaran dapat dibuat secara sederhana menggunakan buku atau spreadsheet. Kompleksitasnya perlu disesuaikan dengan ukuran dan risiko usaha.

Apakah anggaran harus selalu tercapai?

Tidak. Anggaran adalah rencana berdasarkan asumsi. Namun, selisih harus dianalisis agar pemilik mengetahui apakah penyebabnya berasal dari kondisi pasar, asumsi yang salah, atau pelaksanaan yang tidak efektif.

Berapa lama periode anggaran yang baik?

Anggaran tahunan dapat digunakan untuk arah umum, kemudian dipecah menjadi anggaran bulanan. Arus kas sebaiknya diperiksa lebih sering jika transaksi dan kewajiban usaha tinggi.

Apakah anggaran boleh diubah?

Anggaran awal sebaiknya dipertahankan sebagai dasar evaluasi. Jika kondisi berubah, buat proyeksi terbaru atau revisi resmi dengan alasan yang terdokumentasi.

Apa perbedaan anggaran laba dan anggaran kas?

Anggaran laba mencatat pendapatan dan biaya berdasarkan prinsip pencatatan yang digunakan. Anggaran kas berfokus pada waktu uang benar-benar diterima dan dibayarkan.

Bagaimana jika usaha belum mempunyai data historis?

Gunakan asumsi berdasarkan kapasitas, harga, observasi pasar, penawaran pemasok, dan kondisi operasional. Tandai asumsi tersebut dan perbarui setelah memperoleh data aktual.

Apakah pengambilan pemilik dimasukkan ke anggaran?

Ya, pengambilan atau pembayaran kepada pemilik perlu dimasukkan ke anggaran kas karena mengurangi dana usaha. Klasifikasi akuntansinya disesuaikan dengan bentuk dan substansi transaksi.

Berapa besar selisih yang perlu diperiksa?

Tentukan berdasarkan nilai dan risiko. Selisih kecil secara persentase dapat tetap material jika nilainya besar. Selisih kecil yang berulang juga perlu diperiksa.

Apakah biaya pemasaran yang melebihi anggaran selalu buruk?

Tidak. Nilai hasilnya harus diperiksa. Biaya tambahan dapat diterima jika menghasilkan pelanggan, margin, dan arus kas yang memadai.

Bagaimana jika realisasi penjualan jauh di bawah anggaran?

Perbarui proyeksi penjualan, biaya, dan kas. Jangan menunggu akhir periode. Tentukan biaya yang dapat dikendalikan tanpa merusak kemampuan usaha menghasilkan pendapatan.

Apakah saldo rekening dapat digunakan sebagai realisasi laba?

Tidak. Saldo rekening dipengaruhi oleh piutang, utang, pinjaman, setoran modal, pengambilan pemilik, cicilan pokok, dan pembelian aset.

Kesimpulan

Anggaran usaha membantu pemilik mengubah tujuan menjadi rencana yang dapat diukur.

Anggaran yang efektif mencakup:

  • Penjualan.
  • Biaya variabel.
  • Biaya tetap.
  • Biaya tidak rutin.
  • Laba.
  • Arus kas.
  • Investasi.
  • Utang dan cicilan.
  • Pengambilan atau pembayaran kepada pemilik.
  • Cadangan kas.

Namun, menyusun anggaran saja tidak cukup.

Pemilik perlu:

  • Mencatat realisasi.
  • Menghitung selisih.
  • Menemukan penyebabnya.
  • Memperbarui proyeksi.
  • Menetapkan tindakan.
  • Memeriksa hasil tindakan tersebut.

Mulailah dengan struktur sederhana dan konsisten. Gunakan satu anggaran bulanan, satu laporan realisasi, satu proyeksi kas, dan satu jadwal evaluasi.

Anggaran bukan alat untuk menebak masa depan secara sempurna. Anggaran merupakan sistem untuk mendeteksi penyimpangan lebih awal dan mengambil keputusan sebelum masalah menjadi terlalu besar.

Kembangkan Usaha Anda Bersama DekatLokasi

Setelah target, biaya, laba, dan anggaran pemasaran ditetapkan, pastikan informasi usaha dapat ditemukan oleh calon pelanggan di sekitar lokasi Anda.

Melalui DekatLokasi, pemilik usaha dapat melengkapi profil usaha, lokasi, jam operasional, produk atau layanan, kisaran harga, foto, kontak, dan informasi promo.

Daftarkan atau lengkapi profil usaha Anda di DekatLokasi agar aktivitas pemasaran lokal dapat diarahkan kepada pelanggan yang relevan dan hasilnya dapat dibandingkan dengan target usaha.


Catatan editorial: Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan nasihat akuntansi, perpajakan, hukum, atau keuangan profesional. Struktur anggaran, pengakuan pendapatan dan biaya, perlakuan aset, penyusutan, pajak, transaksi pemilik, pinjaman, serta pelaporan dapat berbeda berdasarkan bentuk usaha dan kebijakan yang digunakan. Konsultasikan transaksi material dengan tenaga profesional.

Terakhir diperbarui: 30 Juli 2026.